-->

Kisah Teladan dan Karomah Mbah Cholil Bangkalan


Kisah Teladan dan Karomah Mbah Cholil Bangkalan
https://bulletin-alhimmah.blogspot.co.id/
Mbah Cholil adalah Waliyullah yang sangat mempunyai pengaruh paling besar pada saat sebelum hingga awal berdirinya Nahdlatul Ulama. Hal ini terjadi karena sebab berguru kepada beliaulah, banyak santri-santri yang menjadi pengasuh pondok pesantren besar di Indonesia dan tokoh-tokoh di NU pada awal berdirinya. Dalam catatan sejarah, banyak tokoh-tokoh pendiri NU adalah alumni dari pondok pesantren yang diasuh oleh beliau yang bernama lengkap Kyai Kholil bin Kyai Abdul Lathif bin Kyai Hamim bin Kyai ‘Abdul Karim bin Kyai Muharram bin Kyai Asral Karamah bin Kyai ‘Abdullah bin Sayyid Sulaiman yang merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo.
    Kyai Cholil adalah seorang alim dalam Ilmu Nahwu, Ilmu Fiqh dan tarekat. Beliau juga di kenal hafal al-Qur’an dan menguasai segala ilmunya. Termasuk seni baca Al-qur’an tujuh macam (Qiroah sab’ah). Selain kelebihan tersebut, beliau juga mempunyai kemampuan pada hal-hal yang tidak kasat mata (tidak dapat di lihat) dan sebab kelebihan tersebut, umat Islam Indonesia meyakini beliau adalah Waliyullah.

Santri yang Mandiri

Sebenarnya, bisa saja Mbah Cholil muda tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Mbah Cholil muda sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani.
Akan tetapi, Mbah Cholil muda tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Mbah Cholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
 Sewaktu menjadi Santri Mbah Cholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Di samping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).
 Kemandirian Mbah Cholil muda juga nampak ketika beliau berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Mbah Cholil muda tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.
https://bulletin-alhimmah.blogspot.co.id/
Mensiasati Makan Gratis
Kyai Cholil muda adalah sosok pemuda yang mandiri. Pada saat itu, dirinya ingin melanjutkan menuntut ilmu ke Mekah, Arab Saudi. Tetapi tidak ingin meminta biayanya kepada orang tua. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kiai Cholil sebelum berangkat ke Mekah terlebih dahulu ngaji di pondok pesantren Banyuwangi. Di pondok tersebut, beliau juga bekerja di kebun pengasuh pondok. Dengan bekerja di kebun sebagai pemetik buah kelapa, beliau di bayar 2,5 sen setiap pohon kelapa. Dengan penghasilan tersebut, uang yang didapatkannya di tabung untuk biaya menuntut ilmu ke Mekah. Selain itu, untuk makan sehari-hari, beliau menjadi khodim di dalem pondok pesantren dengan mengisi bak mandi, mencuci pakaian dan melakukan pekerjaan yang lain. selain itu, Kiai Cholil juga menjadi juru masak bagi teman-temannya, dengan seperti itu dirinya bisa mendapatkan makan dengan gratis.

Hati-hati Ada Macan (Kisah Kehadiran KH Abdul Wahab Hasbullah)
Pada suatu hari di bulan Syawal, KH Kholil memanggil semua santri, kemudian beliau mengatakan; “Santri-santri sekalian.!! Untuk saat ini kalian harus memperketat penjagaan pondok. Karena tidak lama lagi, akan ada macan masuk ke pondok kita”.Sejak itu, setiap hari semua santri melakukan penjagaan yang ketat di pondok pesantren. Hal ini dilakukan karena di dekat pondok pesantren ada hutan yang konon angker dan berbahaya, sehingga kuatir jika yang di maksud macan akan muncul dari hutan tersebut. Setelah beberapa hari ternyata macan yang di tunggu-tunggu tidak juga muncul juga, sampai akhirnya sampai di minggu ke tiga sampai juga belum muncul. Setelah masuk di minggu ke 3, Kyai Cholil memerintahkan santri-santri untuk berjaga-jaga ketika ada pemuda kurus, tidak terlalu tinggi dan membawa tas koper seng masuk ke komplek pondok pesantren.
 Begitu sampai di depan rumah Kyai Cholil mengucapkan salam “ Assalamu’alaikum” ucap pemuda tersebut. Mendengar salam pemuda tersebut, Kyai Cholil justru malah berteriak memanggil santri-santrinya.
 “ Hai santri-santri, ada macan.. macan.. ayo kita kepung, jangan sampai masuk kepondok” teriak Kiai Kholil. Mendengar teriakan kiai Kholil, serentak para santri berhamburan membawa apa saja yang bisa dibawa untuk mengusir pemuda tersebut yang dianggap Macan. Para santri yang sudah membawa pedang, celurit, tongkat, dan apa saja mengerubuti “macan” yang tidak lain adalah pemuda tersebut. Muka pemuda tersebut menjadi pucat pasi ketakutan. Karena tidak ada jalan lain, akhirnya pemuda tersebut lari meninggalakn komplek pondok tersebut.
 Karena tingginya semangat untuk nyantri ke pondok yang diasuh oleh Kiai Kholil, keesokan harinya pemuda itu mencoba memasuki pesantren lagi. Meskipun begitu, dirinya tetap memperoleh perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Karena rasa takut dan kelelahan akhirnya pemuda tersebut tidur di bawah kentongan yang ada di mussola pondok pesantren. Ketika tengah malam, dirinya dibangunkan dan dimarah-marahi oleh Kiai Kholil. Namun demikian, setelah itu dirinya diajak oleh Kyai Cholil kerumah dan dinyatakan sebagai salah satu santri dari pondok yang beliau pimpin. Sejak itu, remaja tersebut sebagai santri pondok. Pemuda yang dimaksud diatas adalah Abdul Wahab atau Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi salah satu pendiri NU. Ternyata apa yang dikatakan oleh Kiai Kholil, akhirnya Abdul Wahab Hasbullah benar-benar menjadi “ Macan” NU.

Minta Didoakan Cepat Kaya

Pada suatu waktu, Kyai Cholil mempunyai tamu yang berasal dari keturunan tionghoa yang terkenal dengan panggilan Koh Bun Fat, datang untuk keperluan pribadinya. “Kiai, saya minta didoakan agar cepat kaya, karena aku sudah bosan hidup miskin”. Kata Koh Fat yang sedang miskin. Setelah mendengar niat tamunya tersebut, Kyai Cholil meminta Koh Bun Fat untuk mendekat. Setelah mendekat, Kyai Cholil memegang kepala Koh Bun Fat dan memegangnya erat-erat sambil mengucapkan. “Saatu lisanatan, Howang-howang, Howing-Howing. Pak uwang huwang nuwang. Tur kecetur salang kecetur, sugih.. sugih..sugih!”. Saat itu diucapkan oleh kiai Kholil, tidak ada satupun yang ada memahami makna apa yang diucapkan oleh Kiai Kholil. Namun, dengan kata tanpa makna itu, Koh Bun Fat justru beerubah menjadi pengusaha Tionghoa yang kaya raya.
 Kyai Cholil sebagai guru KH Hasyim Asy’ari mengamati kondisi tersebut. Kemudian beliau mengutus seorang santri yang juga masih cucunya sendiri, As’ad untuk menghadapnya. “Saat ini Kiai Hasyim sedang resah, oleh karena itu, antar dan berikan lah tongkat ini kepadanya” Kata Kyai Cholil sambil memberikan tongkat yang dimaksud. “dan jangan lupa bacakan ayat ini surat thoha As’ad.
 Setelah itu, As’ad kemudian pergi ke Jombang untuk menyampaikan pesan yang di bawanya serta menyampaikan tongkat. Hari berganti bulan dan bersama perjalanan waktu, organisasi yang sudah dirintis oleh Kyai Wahab belum juga terbentuk, sehingga Kyai Cholil mengutus As’ad yang kedua kali dengan membawakan tasbih dan meminta KH Hasyim Asy’ari untuk mengamalkan Asmaul Husna yang berbuyi “Ya-Jabbar- Ya Qohhar”. Setelah berjuang di bantu oleh kiai-kiai lain, akhirnya nahdlatul Ulama berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926, atau tepat 1 tahun setelah KH Cholil wafat yang jatuh pada tanggal 29 Romadhon 1343 H.

Adapun karomah Mbah Cholil diantaranya:
Menyembuhkan Orang Lumpuh Seketika

Dalam buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar” menerangkan bahwa Mbah Cholil Bangkalan termasuk salah satu guru Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar yang mempunyai karomah luar biasa. Diceritakan oleh penulis buku tersebut sebagai berikut:
 “Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh, padahal beliau sudah dibawa ke Jakarta tepatnya di Betawi, namun belum juga sembuh. Lalu beliau mendengar bahwa di Madura ada orang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit. Kemudian pergilah beliau ke Madura yakni ke Mbah Cholil untuk berobat. beliau dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang, tak ketinggalan pula anak dan istrinya ikut mengantar.
 Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan orang Madura yang dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon). Lalu mereka sepakat pergi bersama-sama berobat ke Mbah Cholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Cholil, muncullah Mbah Cholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata: “Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian.”
 Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan dan langsung lari tanpa beliau sadari sedang sakit. Karena Mbah Cholil terus mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh. Setelah Mbah Cholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.

Santri Mimpi dengan Wanita

Pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah, dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa shalat Shubuh berjamaah. Ketidakikutsertaan Bahar shalat Shubuh berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub. Semalam Bahar bermimpi tidur dengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar. Sebab wanita itu adalah istri Mbah Cholil, gurunya.
 Menjelang subuh, terdengar Mbah Cholil marah besar sambil membawa sebilah pedang seraya berucap: “Santri kurang ajar.., santri kurang ajar....!”
 Para santri yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu.
 Shubuh itu Bahar memang tidak ikut shalat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid. Seusai shalat Shubuh berjamaah, Mbah Cholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya: “Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Mbah Cholil dengan nada menyelidik.
 Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah Bahar. Kemudian Mbah Cholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa ke masjid.
 Mbah Cholil menatap tajam-tajam kepada Bahar seraya berkata: “ Bahar, karena kamu tidak hadir shalat Shubuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini,” Perintah Mbah Cholil.
 Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali. Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik.
 “Alhamdulillah, sudah selesai Kyai,” Ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati.
 “Kalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis!” Perintah Kyai kepada Bahar.
 Sekali lagi santri Bahar dengan patuh menerima hukuman dari Mbah Cholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan yang telah tersedia. Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh Mbah Cholil seraya berucap: “Hai santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini,” Ucap Mbah Cholil sambil menunjuk ke arah Bahar.
 Dengan perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang meninggalkan pesantren Mbah Cholil menuju kampung halamannya. Memang benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Mbah Cholil itu, menjadi Kyai yang sangat alim, yang memimpin sebuah pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kyai beruntung itu bernama Kyai Bahar, seorang Kyai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

0 Response to " Kisah Teladan dan Karomah Mbah Cholil Bangkalan"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel