-->

Roudhotul Muchlisin Sebagai Icon Wisata Religi di Kota Santri

Julukan “Kota Santri” yang disandang oleh Jember dikarenakan Jember terdapat banyak pesantren yang menyebar di berbagai daerah maupun pedesaan. Sebagai salah satu ikon wisata religi di Jawa Timur, khususnya di Jember, keberadaan masjid Roudhotul Muchlisin terus menarik perhatian masyarakat. Sejak diresmikan pertengahan Mei 2017 lalu, pengunjung yang datang ke masjid di Jl. Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates,  ini kian meningkat.
    Masjid Roudhotul Muchlisin menarik perhatian masyarakat karena bangunannya lain dari masjid yang ada di Jember. Bangunan masjid ini megah dan terkesan futuristik. Apalagi desain masjid mirip dengan masjid yang ada di negara Turki. Dindingnya didominasi warna Kuning dan Jingga. Pilarnya dihiasi ornament layaknya istana.
    Tidak hanya itu, persis di depan pintu masuk masjid juga terdapat air mancur berhiaskan lampu warna–warni. Jika malam, masjid ini semakin menunjukkan pesonanya. Tak heran jika kemudian banyak pengunjung yang berfoto di lingkungan masjid dengan luas sekitar 2.000 meter persegi itu.
    Di muat dari website resmi detik.com yang di hasilkan dari wawancara langsung dengan salah seorang satpam bernama Ainurrofiq. "Paling ramai sore sampai malam, terutama menjelang akhir pekan, Jumat malam dan Sabtu malam," Jika hari-hari biasa, menurut Ainurrofiq, jumlah pengunjung 20 sampai 30 mobil. Namun untuk sepeda motor sampai 75 unit. "Kalau sepeda motor sekitar  50  sampai  75," tambahnya.
Sedangkan untuk Jumat dan Sabtu, jumlah pengunjung bisa lebih dari 50 mobil. Bahkan halaman masjid sering tidak mencukupi untuk parkir  kendaraan, sehingga ada yang parkir di tepi jalan raya.
    "Jadi kalau sudah menutup gerbang, itu kemungkinan sudah lebih dari 50 mobil. Parkirnya sudah sampai di jalan. Kita sudah kerjasama dengansatlantas.
Untuk masjid itu nggak apa-apa, karena kenaikan itu kan insidental," terang Ainurrofiq.
    Apakah semua yang datang memang untuk beribadah? "Ya sebagian besar memang untuk beribadah. Sekitar 85 persen-lah, sisanya ya beristirahat dan selfie (swafoto). Bahkan tidak sedikit juga yang datang ini non-muslim. Biasanya mereka ambil foto masjid dan selfie," terang Ainurrofiq.
    Keberadaan pengunjung yang sekadar untuk berswafoto ini juga membuat petugas satpam harus bisa memberi arahan. Sebab ada beberapa di antaranya yang harus menyesuaikan dengan religi masjid sebagai tempat ibadah. Terutama pengunjung dari mancanegara.
    "Jadi beberapa kali kita mengarahkan, kayak bule atau nonmuslim lainnya untuk menyesuaikan dalam berbusana. Jadi persoalan agama kita tidak masalah, kan memang ini syiar untuk semua golongan," katanya.
Kendati demikian, tidak ada aturan yang sangat ketat bagi pengunjung yang datang hanya untuk berswafoto. "Selama masih dalam batas kewajaran, kita masih menolerir. Bahkan kita juga siapkan busana, misal sarung di etalase. Ya setidaknya bisa untuk menutup aurat seperti dalam agama Islam," ujar Ainurrofiq.
    Selain soal busana, banyaknya pengunjung juga membuat satpam masjid meningkatkan kewaspadaan. Terutama untuk mengantisipasi tindakan kriminal. Sebab sudah dua kali di tempat itu terjadi pencurian.                
    "Yang pertama pencurian mobil, tapi ternyata itu ulah untuk klaim asuransi.
    Yang kedua pencurian helm. Setelah itu tidak ada lagi, dan mudah-mudahan saja terus aman," katanya.
    Sementara Sekretaris Masjid Roudhotul Muchlisin, H. Mahrus, bersyukur keberadaan masjid bisa semakin memberi manfaat kepada masyarakat.  Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga bisa memberi nilai lebih, yakni sebagai tempat wisata religi.
    "Makanya kita juga lakukan langkah antisipasi dengan memberikan tulisan-tulisan kawasan berbusana muslim. Satpam juga kita instruksikan untuk selektif terhadap pengunjung. Tapi secara umum kita welcome. Apalagi untuk kegiatan keagamaan," kata Mahrus.
Dosen IAIN Jember ini menambahkan, selain  sebagai  tempat  ibadah, tidak jarang masjid itu juga digunakan untuk acara akad nikah dan kajian-kajian keislaman.
    Pihak takmir sendiri tidak pernah keberatan sepanjang ada koordinasi. "Yang penting koordinasi tidak masalah. Biar kita juga bisa membantu mengatur jadwalnya agar tidak benturan pada masing-masing kegiatan," tambahnya.

0 Response to "Roudhotul Muchlisin Sebagai Icon Wisata Religi di Kota Santri"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel