-->

Ibnu Al-Haitam (Bapak Optik Dunia)


Gelar kehormatan itu dianugerahkan kepada Ibnu Haitam atas kontribusinya dalam mengembangkan ilmu optik. Alhazen, sebutan bangsa barat untuknya. Nama lengkap beliau adalah Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham beliau lahir di Basroh  Iraq pada kisaran tahun 965-1039 M.
          Sejak kecil Ibnu Haitham yang berotak encer menimba ilmu di tanah kelahirannya. Selain di kota Basroh beliau juga sempat menimba ilmu di kota-kota lain seperti, Ahwaz, Baghdad, dan Kota Mesir, bahkan beliau juga sempat menimba ilmu di Universitas Al-Azhar.
          Setelah itu, secara otodidak beliau mempelajari sendiri berbagai disiplin ilmu, sehingga beliau dapat menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat. Secara serius beliau mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya.     
          Ibnu Haitham mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil dari indra penglihatan manusia mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Beliau memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah manusia bisa melihat kerena objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya kemudian di tangkap mata sehingga bisa terlihat. Teorinya inilah yang mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuan Yunani, Plolemy dan Euclid yang menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena adanya cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek.
          Ibnu Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura bersama dengan muridnya yaitu Kamaluddin Alfarisi. Keduanya berhasil merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari gerhana, Ibnu Haitham  membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata di proyeksikan melalui  prmukaan bidang datar. Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan oleh ummat manusia. Oleh kamus Webster, Fenomena ini secara harfiah di artikan sebagai “ruang gelap”. Biasanya terbuat dari kertas kardus denga lubang kecil untuk masuknya cahaya.
          Ibnu Haitham termasuk salah satu dari ulama yang paling produktif pada zamannya total jumlah karangan yang beliau tulis mencapai 200 judul buku. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa. Bahkan, kitab yang selama 500 tahun bertahan sebagai kitab paling penting dalam ilmu optik, yaitu kitab Al-Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Orang hanya mempelajari terjemahanya dalam bahasa latin dengan judul Opticae Thesaurus.



0 Response to "Ibnu Al-Haitam (Bapak Optik Dunia)"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel