Sabar Sampai Puncak Itu Indah
Sunday, 30 October 2016
Add Comment
Sedangkan kesabaran terdiri dari
beberapa instrumen-instrumen yang selalu melekat, yakni pengetahuan, keadaan
dan amal. Maka pengetahuan bisa diibaratkan sebagai sebuah pohon, keadaan
sebagai rantingnya dan amal sebagai buahnya. Dengan demikian, kesabaran menjadi
kunci dari mashlahat keagamaan, yang pada akhirnya bisa menimbulkan yang
namanya kekuatan dan dorongan untuk melakukannya.
Dalam
kitab Mukasyafah Al-Qulub diakatakan, bahwa kata sabar terdapat beberapa
macam arti :
Sabar
Untuk Taat Kepada Allah
Sejak seseorang menginjak usia baligh,
berarti ia telah bersedia menerima semua konskuensi-konskuensi yang ditimbulkan
dari interaksinya sebagai mahkluk sosial dan sebagai hamba tuhan. Bisa saja itu
adalah konskuensi yang menyebabkan dirinya mulia disisi manusia dan Rabbnya dan
bisa saja sebaliknya. Dengan taat kepada Allah berarti seorang hamba telah
memproklamirkan dirinya untuk selalu mengikuti petunjuk-Nya, tidak melanggar
perintah-Nya dan sebagainya.
Sabar
Dalam Menjauhi Larangan Allah
Setiap agama mempunyai perintah dan
juga larangan kepada setiap penganutnya. Terlebih dalam agama Islam, yang
merupakan agama yang paling kompleks dalam mengarahkan umatnya.
Menjauhi
larangan yang telah Allah tetapkan memang bukan suatu hal yang mudah.
Dibutuhkan latihan yang lama dan masa yang lama untuk bisa mencapainya.
Namun, bagi siapa saja yang sanggup
melaluinya, maka berbahagialah, karena Allah telah mempersiapkan derajat yang
tinggi disisinya. Dalam Mukasyafah Al-Qulub dikatakan, “...barangsiapa yang
sabar dalam menjauhi larangan Allah, maka kelak dihari kiamat, Allah berikan
kepadanya 600 derajat, yang setiap derajat menyamai apa yang ada diantara tujuh
langit dan bumt...”
Sabar
Menerima Takdir
Bagian yang ketiga ini jauh lebih
berat bilamana dibandingkan dari dua bagian sebelumnya, karena takdir adalah
hak prerogatif Allah ta’ala. Suatu contoh, jika kita ditakdirkan dengan kondisi
fisik yang tidak sempurna, maka kita harus tetap sabar. Jangan sekai-kali
menuduh Allah tidak adil dan bijaksana. Seseorang bisa saja mampu untuk
bersabar dalam taat kepada Allah dan menjauhi larangannya, namun belum tentu
seseorang tersebut akan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang lain dari
harapannya. Nah, disinilah kadang kita banyak yang gagal.
Taukah kita? apa yang telah Allah
persiapkan bagi kita yang mampu bersabar pada saat tertimpa musibah atau
qana’ah akan takdir Allah yang dicatatkan kepada kita? Allah persiapkan bagi
mereka yang berhasil menjalaninya. Apa itu? “...barang siapa yang sabar
manakala ia tertimpa musibah atau cobaan dari Allah, maka Allah akan memberi
700 derajat kepada orang tersebut kelak di surga. Dimana setiap derajatnya itu
menyamai dengan sesuatu yang ada diantara Arsy sampai bintang tsura...”
Sayyidina Ali bin Abu Thalib r.a
pernah menerangkan, bahwa setiap orang yang mencapai derajat muthi’ (orang yang
taat), kelak akan ditimbang amalnya dengan timbangan atau takaran. Berbeda
dengan orang yang berderajat shabir (orang yang sabar), mereka ini mengeruk
pahala laksana mengeruk debu yang tidak terhitung jumlahnya. Sungguh luar biasa
derajat orang sabar. Selain mendapatkan pahala yang besar, juga dikatakan
sebagai bagian dari iman.
Inilah sekelumit sketsa mengenai
kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar mereupakan salah satu sifat dan karakter
orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan.
Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar
ini dalam hidupnya.
Sabar
tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau
identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk
merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh
karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini.
Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di
jalan-Nya.

0 Response to "Sabar Sampai Puncak Itu Indah"
Post a Comment