-->

Gaulnya Santri Bukan Sembarang Gaul



Gaul itu Katanya, remaja yang gak mau ketinggalan tren masa kini. Fashion misalnya, mode rambut, handphone bahkan hal yang bersifat hiburan. Kendatipun demikian, pertimbangan makanpun kadang pula menjadi sasaran. Hah sok gaul loe...
          Titel “remaja yang gaul dan funky “ baru melekat bila mampu memenuhi standar tren kekinian. Lalu kenapa kebanyakan orang seolah menjadikan tren sebagai gaya hidup? Maka “IMBAS MEDIA” dan “ BUDAYA GAMPANGAN” yang tepat sebagai jawabannya.
          Sah-sah saja berpenampilan gaul, Islam juga gak ngelarang, asalkan gaul yang masih memegang prinsip. Pramuka saja punya prinsip “Satiaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan”. Masak sih kita seorang muslim yang merupakan umat terbaik kalah sama anak pramuka. Kan gak lucu. Lalu Santri gaul ala Islam kayak gimana?
Salimul Aqidah

          Gaul itu perlu agar tak tampak sebagai manusia kolot, tapi Salimul Aqidah itu merupakan harga mati yang harus ada pada setiap muslim, agar tidak mudah terpengaruh oleh zaman. Karena dengan Salimul Aqidah (aqidah yang bersih), seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang Muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. Al An’am:162).

Sahihul Ibadah (ibadah yang benar)

          Jadi anak gaul itu no problem, tapi harus tetap jaga shalat dong. shalat sering lepas gara-gara pergaulan yang ugal-ugalan. Identitas diri sebagai seorang hamba jangan sampai luntur gara-gara pergaulan, Itulah kenyataannya yang sering kita jumpai.
          Hal ini di anggap sebagai suatu yang wajar jika terjadi pada mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan Agama. Khawatirnya, hal itu malah akan menimpa pada diri kita yang notabennya sebagai santri. Na’udzubillah min dzalik.

Matinul Khuluq (akhlaq yang kokoh)

          Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Pingin kan ngerasain bahagia dunia-akhirat? Nah, karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al Qalam: 4).

Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

          Sebagai seorang santri, sudah seharusnya berfikir dan memilih siapa yang akan menjadi teman bergaulnya. Memilih teman bergaul menjadi sangat penting, karena Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
          Sebenarnya, sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri kita. Cukup dengan melihat bersama siapa saja Anda sering bergaul, seperti itulah cerminan diri kita.

Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

          Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang juga harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim) .

Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)

          Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”.
          Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
          Nah, inilah kadang yang paling sering disepelekan dalam pergaulan. sehingga waktunya habis sia-sia. ingatlah, pergaulan sangat penting, namun jangan habiskan waktu kita sampai disitu. kita sebagai santri dituntut untuk bisa memainkan waktu, bukan dipermainkan waktu.

Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)

          Munazhzhaman fi syuunihi juga termasuk kepribadian seorang muslim yang penting yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
          begitupun dalam pergaulan, dibutuhkan perhatian yang serius, sehingga apa yang menjadi hak dalam bergaul dapat berjalan semestinya, tidak berlebihan sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lain. Jika dalam bekerja dibutuhkan sikap profesionalisme, maka dalam hubungan manusia dibutuhkan sikap proporsiaonal.

Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
          Jadi, Santri gaul itu bukan Santri yang menghabiskan waktu hanya untuk berhura-ria dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Remaja gaul adalah remaja yang mampu mempergunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, nah itu baru gaul man.


0 Response to "Gaulnya Santri Bukan Sembarang Gaul"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel