Gaulnya Santri Bukan Sembarang Gaul
Sunday, 30 October 2016
Add Comment
Gaul
itu Katanya, remaja yang gak mau ketinggalan tren masa kini. Fashion misalnya,
mode rambut, handphone bahkan hal yang bersifat hiburan. Kendatipun demikian,
pertimbangan makanpun kadang pula menjadi sasaran. Hah sok gaul loe...
Titel “remaja yang gaul dan funky “
baru melekat bila mampu memenuhi standar tren kekinian. Lalu kenapa kebanyakan
orang seolah menjadikan tren sebagai gaya hidup? Maka “IMBAS MEDIA” dan “
BUDAYA GAMPANGAN” yang tepat sebagai jawabannya.
Sah-sah saja berpenampilan gaul, Islam
juga gak ngelarang, asalkan gaul yang masih memegang prinsip. Pramuka saja
punya prinsip “Satiaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan”. Masak sih kita
seorang muslim yang merupakan umat terbaik kalah sama anak pramuka. Kan gak
lucu. Lalu Santri gaul ala Islam kayak gimana?
Salimul
Aqidah
Gaul itu perlu agar tak tampak sebagai
manusia kolot, tapi Salimul Aqidah itu merupakan harga mati yang harus
ada pada setiap muslim, agar tidak mudah terpengaruh oleh zaman. Karena dengan Salimul
Aqidah (aqidah yang bersih), seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat
kepada Allah SWT. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang Muslim akan
menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”
(QS. Al An’am:162).
Sahihul
Ibadah (ibadah yang benar)
Jadi anak gaul itu no problem, tapi
harus tetap jaga shalat dong. shalat sering lepas gara-gara pergaulan yang
ugal-ugalan. Identitas diri sebagai seorang hamba jangan sampai luntur
gara-gara pergaulan, Itulah kenyataannya yang sering kita jumpai.
Hal ini di anggap sebagai suatu yang
wajar jika terjadi pada mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan Agama.
Khawatirnya, hal itu malah akan menimpa pada diri kita yang notabennya sebagai
santri. Na’udzubillah min dzalik.
Matinul
Khuluq (akhlaq yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan
perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada
Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan
bahagia dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Pingin kan ngerasain
bahagia dunia-akhirat? Nah, karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia
bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan
beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga
diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. “Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al Qalam: 4).
Mutsaqqoful
Fikri (intelek dalam berfikir)
Sebagai seorang santri, sudah
seharusnya berfikir dan memilih siapa yang akan menjadi teman bergaulnya.
Memilih teman bergaul menjadi sangat penting, karena Banyak orang yang
terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman
bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah
disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Sebenarnya, sangat mudah mengetahui
seperti apa cerminan diri kita. Cukup dengan melihat bersama siapa saja Anda
sering bergaul, seperti itulah cerminan diri kita.
Mujahadatul
Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan
salah satu kepribadian yang juga harus ada pada diri seorang muslim karena
setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk.
Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat
menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang
berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia
harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak
beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa
yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim) .
Harishun
Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Allah SWT memberikan waktu kepada
manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24
jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena
itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada
kehilangan waktu”.
Waktu merupakan sesuatu yang cepat
berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat
dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu
dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang
disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang
lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda
sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
Nah, inilah kadang yang paling sering
disepelekan dalam pergaulan. sehingga waktunya habis sia-sia. ingatlah,
pergaulan sangat penting, namun jangan habiskan waktu kita sampai disitu. kita
sebagai santri dituntut untuk bisa memainkan waktu, bukan dipermainkan waktu.
Munazhzhamun
fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi juga
termasuk kepribadian seorang muslim yang penting yang ditekankan oleh Al Qur’an
maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan
masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan
baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan
bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata
lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan,
profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat ,
berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang
mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
begitupun dalam pergaulan, dibutuhkan
perhatian yang serius, sehingga apa yang menjadi hak dalam bergaul dapat
berjalan semestinya, tidak berlebihan sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban
yang lain. Jika dalam bekerja dibutuhkan sikap profesionalisme, maka dalam
hubungan manusia dibutuhkan sikap proporsiaonal.
Nafi’un
Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un
lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang
dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang
disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim
tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap
muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal
untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam
kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
Jadi, Santri gaul itu bukan Santri
yang menghabiskan waktu hanya untuk berhura-ria dengan hal-hal yang tidak
bermanfaat. Remaja gaul adalah remaja yang mampu mempergunakan waktu untuk
hal-hal yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, nah itu
baru gaul man.

0 Response to "Gaulnya Santri Bukan Sembarang Gaul"
Post a Comment