-->

Elektabilitas Jokowi Menguap (tema buletin alHIMMAH Edisi 22)




 Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kita haturkan kepada allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tiada tara sehingga buletin bulanan alhimmah dapat terbit kembali. Teririing sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda nabi muhammad SAW yang telah mendatangkan nuansa damai penuh keindahan dengan adanya islam dan iman.
    Selanjutnya  kami dari crew alhimmah mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada semua  crew  dan seluruh pihak yang turut membantu  dan memberikan apresiasi kepada kami atas terbitnya buletin alhimmah ini.
    Tidak terasa waktu berputar begitu cepat sehingga buletin alhimmah kembali hadir menemani pembaca sekalian tentunya dengan rubrik-rubrik yang menarik dan tema yang berbeda.
Dengan upaya dan usaha kerja keras crew alhimmah pada terbitan kali ini mengangkat tema “Eksebilitas Jokowi Menguap” yang mengulas tentang konflik prapilpres yang kini sudah menjadi viral dikalangan masyarakat.
Mudah-mudahan para pembaca dan seluruh crew dan pihak terkait dapat mengambil manfaat dari terbitan buletin ini serta mendapatkan barokah dan ridho ALLAH SWT.
    Meskipun buletin ini telah terbit, tentu masih banyak kekurangan-kekurang yang perlu diperbaiki kembali. Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat bacaan yang kurang memuaskan dan penuh akan kesalahan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Berikut ini ulasan menegenai tema tersebut.

Pengamat komunikasi politik, Emrus Corner dan Emrus Sihombing mengatakan, elektabilitas Jokowi yang saat ini tinggi(menaik), merupakan penelitian sebenarnya dan yang mengonfirmasi pandangan publik selama ini.
    Dan apa yang diteliti SMRC(Saiful Mujani Research and Consulting) sangat masuk akal, karena sudah jelas terlihat Jokowi konsisten dalam menjalankan programnya di bidang kerakyatan, sederhana, nawacita, dan program pembangunan lainnya. “Secara nasional saya kira kinerja Jokowi bagus. Kita lihat saja sekarang:  jalan, bandara dan lainnya terbangun dengan cepat. Jokowi pemimpin yang berpihak kepada rakyat. Anak-anaknya tak pernah menggunakan fasilitas bapaknya sebagai presiden itulah yang membuat rakyat makin simpati”.
    Jokowi dinilai oleh Emrus merupakan pemimpin yang tidak feodal, tidak mau dilayani. Karakter pemimpin seperti Jokowi dinilai sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. “Jokowi sungguh-sungguh pemimpin yang melayani. Elektabiltas, akseptabilitas apalagi popularitasnya tak perlu diragukan lagi,” katanya.
    Menurut Emrus, Probowo akan menjadi lawan paling kuat  Jokowi di Pil-Pres 2019 mendatang. Ia pun berharap ada lawan yang sepadan dengan Jokowi di Pil-Pres 2019 agar ada keseimbangan dalam persaingan. “Secara hipotesis sangat mungkin dimenangkan Jokowi. Jakarta saja dibangun sudah menang, apalagi Indonesia sekarang ini,” katanya.
    Namun Emrus khawatir kalau eleketabilitas dan akseptabilitas Jokowi tinggi dikhawatirkan tak ada lawan Jokowi untuk maju di Pil-Pres. Apalagi UU pemilu tidak mengatur calon tunggal. “Perlu lawan sebagai bentuk pelaksaan nilai-nilai demokrasi. Perlu ada lawan agar kritik tetap ada. Kritik itu memacu untuk bekerja lebih baik,” katanya.

Elektabilitas Jokowi Meningkat, Prabowo Menurun
    Pilihan masyarakat terhadap calon Presiden 2019 masih mengerucut kepada dua nama, yakni Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Meski begitu, kecenderungan terakhir menunjukkan elektabilitas Jokowi meningkat, sementara Prabowo menurun. Hal itu terlihat dari survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 26 September-8 Oktober 2017. Survei bertanya kepada responden, apabila Pilpres 2019 dilakukan sekarang, siapa sosok yang akan mereka pilih.
    Hasilnya, 46,3 persen responden memilih Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua. Sementara responden yang memilih Prabowo 18,2 persen. Responden yang memilih Jokowi naik apabila dibandingkan dengan survei terakhir Litbang Kompas April 2017 lalu. Jokowi saat itu hanya dipilih 41,6 responden.
    Naiknya elektabilitas Jokowi sejalan dengan kepuasan responden terhadap pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla.  Pada April 2017, hanya 63,1 persen responden yang menyatakan puas dengan kinerja pemerintah. Namun, kini angkanya naik menjadi 70,8 persen.
    Disisi lain, elektabilitas Prabowo mengalami penurunan. Pada April 2017, Mantan Danjen Kopassus itu masih dipilih 22,1 persen responden. Namun kini elektabilitasnya turun menjadi 18,2 persen.
    Terlepas dari persaingan Jokowi dan Prabowo, calon lainnya tidak ada yang mendapatkan suara signifikan. Sementara, responden yang belum menentukan pilihan jumlahnya lebih tinggi daripada suara responden yang memilih Prabowo, yakni mencapai 23,6 persen.
    Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Metode pemilihan sampel acak bertahap atau multistage random sampling. Jumlah sampel yang diambil 1200 responden di 32 provinsi seluruh Indonesia. Margin of error sebesar plus minus 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Penantang baru kalah elektabilitas
    Jika Jokowi ingin  maju lagi, kemungkinan besar ia akan mendapatkan calon penantang  yang baru selain Prabowo Subianto.  Celah itu terbuka menyusul turunnya elektabilitas Prabowo di banyak survei, bisa saja calon(penantang berat) merupakan tokoh yang   belum muncul atau belum diperhitungkan sebelumnya,  karena masih ada waktu untuk menyiapkan diri, setidaknya sepanjang tahun 2018 hingga  awal tahun 2019.
    Tokoh selain Jokowi dan Prabowo, selama ini mulai muncul nama-nama(tokoh) lain yang dipilih dalam berbagai survei, walau angkanya  masih sedikit (amat kecil).   Dalam survei SMRC(Saiful Mujani Research and Consulting) misalnya, muncul nama Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) sebesar 1,3 persen,  dan sederet nama lain yang mendapat angka dibawah satu persen, seperti  Anies Basdewan, Basuki Tjahaja Purnama(Ahok),  Jusuf Kalla, Hary Tanoesudibjo, Ridwan Kamil,  Agus Yudhoyono, Gatot Nurmantyo, dan Sri Mulyani.
    Di antara nama-nama itu, yang cukup menarik  adalah munculnya  Gatot  dalam radar survei, nama Panglima TNI itu juga terdeteksi  dalam survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada September lalu.  Kini  Gatot  yang berencana untuk pensiun  pada Maret tahun depan(2018), sering disorot lantaran kerap bikin manuver  agak aneh, mulai dari perintah menonton bersama film G30S/PKI hingga ribut soal pesanan senjata ilegal.  Banyak orang melihat serangkaian manuver itu  berkaitan dengan pertarungan pada pemilihan presiden 2019.
    Hadirnya beberapa tokoh penantang baru tidak otomatis bisa menggerus elektabilitas Jokowi, akan tetapi, bisa jadi  yang terjadi malah sebaliknya, suara pesaing-pesaing Jokowi akan terpecah jika diantara mereka  tak ada penantang yang betul-betul kuat. Hanya saja, kedigdayaan Jokowi kelak amat tergantung pula kinerja pemerintahannya.
     Elektabilitas Presiden Joko Widodo cukup  lumayan kendati masih di bawah 50 persen, dan pada 20 Oktober kemarin, ia genap tiga tahun memerintah. Akan tetapi, peta pertarungan mulai berubah, karena berubahnya elektabilitas  Prabowo Subianto,  pesaingnya pada pemilihan presiden 2014 yang semakin menurun.
    Sesuai  hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), elektabilitas Jokowi pada September 2017 sebesar 38,9 persen. Angka ini  naik tipis dibanding elektabilitasnya  pada Maret lalu sebesar 34,1 persen, adapun  tingkat keterpilihan Prabowo  hanya  12 persen, turun dibanding elektabilitasnya pada Maret lalu yang sebesar 17,2 persen. Sedangkan hasil survei dari Media Survei Nasional (Median) menunjukkan  elektabilitas Jokowi  36,2 persen dan elektabilitas Prabowo 23,2 persen. Adapun hasil  Survei Dari Kedai Kopi,  elektabilitas  Jokowi  44,9 persen, sedangkan pilihan pada tokoh selain Jokowi sebesar  48,9 persen  yang tersebar ke banyak tokoh, seperti Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Tri Rismaharini, dan  Agus Harimurti Yudhoyono.

0 Response to "Elektabilitas Jokowi Menguap (tema buletin alHIMMAH Edisi 22)"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel