-->

Kehidupan Di era Pesantren

Pesantren atau yang sering kita kenal sebagai pondok, merupkan sebuah tempat yang bermakna dan penuh dengan kisah-kisah yang unik dan menarik didalamnya, hususnya bagi penghuni dari tempat itu sendiri, yang di kenal sebagai santri. Ya, memang santrilah yang membuat pesantren tersebut penuh dengan keistimewaan tertentu, karena dalam kehidupan di pesantren banyak hal-hal yang mungkin menarik dan lucu untuk di dengar, hususnya oleh orang Nonsantri, atau mungkin akan menjadi topik yang seru untuk menjadi bahan obrolan di kalangan santri itu sendiri karena bagaimanapun juga itu adalah pengalaman mereka yang patut tercatat dalam sejarah hidup mereka, yaitu nyantri(MONDOK). Dan berikut adalah sebagian dari pengalaman kita di pesantren yang sering kita jumpai.

Kopyah dan peci sebagai jati diri
Sudah menjadi kelaziman di kalangan santri, dengan pakaian serba islami, hususnya kopyah dan sarung bahkan gaya berpakaian ini mungkin sudah menjadi almamater resmi bagi santri. Tak hanya di dalam pondok, pakaian tersebut juga wajib dikenakan ketika keluar dari pondok. Namanya juga santri, beberapa dari mereka yang mokong sudah mempersiapkan celana pendek di dalam sarungnya. Sebagai persiapan nanti ketika jalan-jalan di Alon-alon, pasar atau Ramayana.

Meratapi takzir

Demi kedisiplinan sebuah pesantren tentunya ada aturan dan tata tertib tertentu, sehingga dengan adanya tata tertib tersebut mau tidak mau harus dilakukan oleh santri. Dan mungkin hal ini menjengkelkan hati para santri, tapi tak bisa di pungkiri lagi, yang namanya tata tertib harus dilaksanakan kecuali dia akan mendapatkan hukuman bila melanggarnya. Contohnya di pondok kita ini, sering kali kita temukan teman kita yang mendapat takzir dari pengurus keamanan baik itu di botak, ngepel, bersih-bersih pondok dan lain-lain, dan jelas itu karena kesalahan mereka sendiri jadi mau tidak mau resiko rambut botak harus dia terima sebagai penebus atas apa yang telah ia lakukan.
Makan Bareng(Ngampar Nasek)
Makan bareng di nampan besar adalah metode ampuh menguatkan tali persaudaraan. Makan bareng tak mengenal batasan. Semua sama. Baik anak jenderal atau anak nelayan, baik yang dirumah jadi anak gedong atau yang jualan jamu gendong, baik yang berasal dari Jawa atau Pontianak dll. Merujuk pada sebuah maqolah perbedaan yang ada pada makan bersama adalah “semakin besar tanganmu, semakin kenyang pula perutmu.” hehe....

Malas Balik Pondok

Fakta ini terjadi ketika sedang liburan. Para santri yang kembali ke rumah biasanya akan malas untuk kembali ke pondok. Mereka seolah enggan untuk kembali menjalan rutinitas di pesantren, karena mungkin mereka anggap di pesantren penuh dengan tekanan bagai dipenjara, sehingga mereka ingin bebas dari tekanan itu yang membuat mereka enggan untuk kembali ke pesantren.

Tatto itu Bernama Gudik

Sudah menjadi rahasia umum jika gudik merupakan salah satu label sahnya seorang santri. Penyakit kulit yang cukup menjijikkan ini seperti sebuah hal yang tak tabu untuk diperbincangkan atau diperlihatkan. Dan luar biasanya, meski pernah kena gudik, nyatanya para santri juga pada akhirnya menikah. Gak ada yang ngejomblo selamanya.

Kisah Cinta Santri

Mereka yang berpikiran jika santri hanya bisa ngaji dan tak pernah merasakan jatuh hati tentu harus segera diceramahi dan ditindaklanjuti. Jangan salah, kisah asmara di pesantren melebihi kisah cinta di novel-novel tenleet.
Saling mengirim surat lewat teman sekamar atau sekedar menitipkan salam lebih dari cukup untuk mengganti kerinduan. Karena cinta seorang santri bukan berkutat pada seberapa sering berjumpa, melainkan seberapa dalam kalimat rindu yang terucap lewat do’a.

Yah... Beginilah kehidupan kita di pesantren ada susah ada senang, yang pasti kita harus tetap sabar menjalani semua ini, karena dibalik perjalanan kita pasti ada hikmahnya, dan inilah gaya kita yang mungkin bisa dikatakan anyep, norak atau apalah, tapi jangan heran kalau kelak kitalah yang akan menjadi sorotan dan menjadi panutan

0 Response to "Kehidupan Di era Pesantren"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel