Mencari Ilmu Bukan dicari Ilmu
Wednesday, 4 October 2017
Add Comment
Ilmu merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan kita baik dalam masalah duniawi maupun masalah ukhrawi karena ilmu merupakan salah satu kunci atau jalan kita untuk menuju apa yang kita inginkan. Tholib adalah isim fa’il dari Tholaba yang dalam bahasa sehari-hari digunakan untuk orang yang mencari ilmu.
Dalam islam, mencari ilmu merupakan suatu yang diwajibkan karena islam mengerti bahwa ilmu merupakan kebutuhan semua manusia untuk kelangsungan hidupnya, jadi untuk mewujudkan kehidupan yang ideal, kita tidak hanya memerlukan harta, tahta, ataupun garis keturunan dari orang terpandang. Semua itu sia-sia tanpa adanya ilmu yang mendukung karena itu semua merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain.
Disini anjuran islam untuk menuntut ilmu tidak dibatasi ruang, keadaan, atau waktu, semua insan baik mulai dari yang masih kecil sampai yang sudah tua ini dikenai kewajiban untuk selalu menuntut ilmu. Sekarang apakah menuntut ilmu itu hanya di sekolahan atau dilembaga-lembaga pendidikan?, ini yang banyak terjadi salah faham dilingkungan kita, banyak dari kita beranggapan bahwa kalau sudah dewasa,sudah tidak wajib lagi menuntut ilmu. Nah, anggapan yang seperti ini harus kita luruskan agar tidak terjadi kesalah fahaman yang semakin meluas.
Menuntut ilmu tidak dikhususkan ditempat-tempat tertentu saja, karena ilmu itu ada dimana-mana dan kapan saja, bahkan Allah menjadikan alam semesta ini semua isinya adalah ilmu yang bisa di tadabbur. Jadi anggapan orang yang mencari ilmu itu terbatas waktu adalah salah.
Bahkan dalam al-quran pun sudah disebutkan bahwa ayat yang turun pertama adalah anjuran untuk membaca, bukan langsung anjuran untuk beribadah. Hal ini menunjukkan bahwa membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu dan begitu pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia. Dalam hadits juga disebutkan “Barangsiapa yang ingin memperoleh dunia hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin memperoleh akhirat hendaklah dengan ilmu, barang siapa ingin memperoleh keduanya hendaklah dengan ilmu”.
Semua jenis ilmu wajib kita pelajari, tidak hanya mengacu pada satu ilmu saja, karena masih banyak ilmu yang penting untuk dipelajari seperti di era sekarang ini, maka tidak cukup untuk hanya mempelajari ilmu agama saja.
Syaikh az-Zarnuji dalam karangannya Ta’limul muta’allim menerangkan bahwa paling utamanya mempelajari ilmu adalah mempelajari ilmu yang berhubungan dengan keadaan dan diwajibkan bagi seorang muslim untuk mempelajari ilmu yang dia butuhkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi sudah jelas bahwa islam tidak hanya mewajibkan untuk mempelajari ilmu syari’at saja.
Kemudian setelah itu syaikh az-Zarnuji menerangkan tentang tata cara mencari ilmu yang baik.
1. Memilih guru
Guru adalah orang yang akan membimbing dan menuntun kita untuk mendapatkan ilmu, dimana peran guru ini sangat penting karena ia merupakan cerminan yang akan ditiru oleh murid-muridnya, dalam kitab Ta’limul muta’allim dianjurkan untuk memilih guru yang lebih tahu dalam bidangnya, lebih wara’ dan lebih tua.
2. Memilih teman
Selanjutnya memilih teman,dalam mencari ilmu teman juga mempunyai peran yang tidak kalah pentingnya, kenapa dikatakan penting karena pengaruh teman ini sangat besar, baik itu berupa pengaruh positif atau juga negatif, yang perlu diwaspadai adalah jika seorang temen itu berpengaruh negatif terhadap kita. Tidak jarang orang yang awalnya bersemangat mencari ilmu, karena pengaruh dari teman itu negatif, ikutlah dia kearah yang negatif.
3. Bersungguh-sungguh
Bersungguh-sungguh atau niat bersungguh-sungguh ini merupakan poin terpenting, karena tanpa adanya niat mustahil semua itu bisa terjadi. Niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan hal tertentu, jadi kalau di dalam diri seseorang tidak ada niat yang mapan, tidak akan terwujud apa yang ia inginkan. Dalam niat juga harus diperhatikan tujuannya apa, seyogyanya untuk orang yang mencari ilmu berniat untuk mencari Ridho Allah, untuk tujuan akhirat,dan untuk menghilangkan kebodohan-kebodohan yang terdapat dalam diri kita.
Ketiga poin ini yang perlu diperhatiikan dalam mencari ilmu supaya kita mendapatkan ilmu yang barakah dan manfaat, hal-hal lain yang mendorong kita agar dimudahkan dalam mencari ilmu tentunya dengan diiringi dengan doa.
Tapi sekarang yang lebih banyak pengaruhnya terhadap Tholibul ‘ilmi adalah pengaruh teman, salahnya pergaulan sekarang dapat menghambat proses Tholabul ‘ilmi, utuk mengatasi itu, kita harus lebih pandai lagi memilih teman yang baik, teman yang selalu mengarahkan kita kejalan yang lurus bukan sebaliknya.
Hubungan antara tiga hal diatas saling berkesinambungan satu sama lain, memilih guru yang ‘alim dan niat yang mantap tapi berteman dengan orang yang dapat berdampak negatif tidak akan mungkin bisa mencapai apa yang kita inginkan, begitupula memilih teman yang baik dan guru yang ‘alim tapi disana tidak ada niatan untuk mencari ilmu juga tidak akan berhasil untuk menuntut ilmu, ataupun memilih teman yang baik dan adanya niatan untuk belajar akan tetapi dia memilih guru yang fasik itu juga tidak akan berhasil. Niatan yang lurus, guru yang ‘alim dan wara’, serta teman yang mendukung itu akan menentukan keberhasilan kita untuk menuntut ilmu.
Dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya kita selalu berfikir dan mengangan angan tentang alam disekitar kita yang jika kita fikir dan angan-angan juga mengandung pelajaran dan tentunya ilmu, belajar seperti ini biasanya tidak mudah bosan dan jenuh, sehingga fikiran akan selalu segar dan lebih maksimal dalam menangkap ilmu, belajar juga tidak harus pada guru saja, tapi masih banyak mediator yang dapat digunakan untuk belajar mulai dari teman, saudara, keluarga bahkan dengan canggihnya teknologi sekarang, Sekarang media untuk belajar sangat banyak sekali, jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak belajar, kita bisa belajar menggunakan internet yang didalamnya sengandung banyak ilmu untuk dipelajari, tapi sayangnya sekarang banyak yang menyalahgunakan fasilitas internet tersebut, banyak yang menggunakan untuk hal-hal yang tidak penting bahkan hal-hal yang mempunyai nilai negatif.
Seperti judul yang tertera “Cari ilmu bukan dicari ilmu”memberikan artian bahwa ilmu itu tidak datang sendiri kepada kita, ilmu digambarkan seperti hewan liar yang gesit, jadi kalau kita ingin memiliki hewan tersebut, maka kita harus mengikatnya dengan tali, kalau kita tidak mengikatnya, dia akan dengan mudah lepas dan pergi, sama halnya dengan ilmu, ilmu itu tidak kasat mata tapi gesitnya seperti hewan liar, mudah datang juga mudah pergi dalam fikiran kita. Ilmu kita ikat dengan sebuah tulisan seperti yang banyak dikatakan “ Qoyyid al-‘ilma bil mukatabah” ikatlah ilmu dengan tulisan.Tulisan diibaratkan sebagai sebuah pengikat yang kuat agar sebuah ilmu itu tidak mudah pergi dan hilang karena sifat pelupa yang terdapat dalam diri manusia, untuk menghindari kelupaan itu kita bisa melihat tulisan yang telah kita tulis untuk mengingat kembali ilmu yang telah kita dapat, itu pengertian dari “ Qoyyid al-‘ilma bil mukatabah”.

0 Response to "Mencari Ilmu Bukan dicari Ilmu"
Post a Comment