Kapan Indonesiaku Maju
Friday, 3 November 2017
Add Comment
Bagaimana tanggapan Anda ketika Anda mengetahui bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat baca hanya 0,001% saja, yang artinya dalam 1000 orang hanya ada satu orang saja yang memiliki minat baca? Dan apa yang Anda rasakan ketika Anda melihat fakta bahwa Indonesia hanya satu tingkat lebih tinggi minat bacanya dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika? Ya, penelitian di bidang literasi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain, Conn, Amerika Serikat, memposisikan Indonesia pada urutan ke 60 dari 61 negara di dunia dan menempatkan lima negara pada posisi terbaik yaitu Filandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia (The Jakarta Post, 12 Maret 2016). Bukankah informasi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi masyarakat Indonesia karena memang memalukan di satu sisi dan memilukan di sisi lain? Bak ditelanjangi di halayak umum, karena seluruh dunia akan tahu bahwa masyarakat Indoneisa adalah masyarakat yang wawasannya sempit dan bernalar pendek.
Nah, mula-mula pertanyaan paling fundamental yang seharusnya muncul dibenak kita adalah, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat masyarakat kita menjadi sedemikian malas dan enggan untuk membaca bahkan membuka buku? Mengapa buku dan literatur ilmiah lainnya belum menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia? Nun di seberang sana, terdapat segelintir manusia yang tak bosan-bosan melayari samudera ilmu, menyelami tetes demi tetes, keringat demi keringat dan air matanya demi bisa belajar, menulis dan membaca, terseok-seok bahkan berdarah-darah untuk bisa memperoleh pengetahuan yang belum penting saat ini, sembari menitipkan harapan pada rekah bunga bahwa kelak negerinya akan membutuhkan pengetahuan itu.
Tetapi, mari abaikan itu sejenak. Ada sebilah tanya yang tanpa kita sadari menghunus bahkan menghujam sampai ke jantung kesadaran: Adakah di antara kita yang tak menghasrati ilmu dan mendambakan pengetahuan? Jika pertanyaan itu pernah terlintas bahkan sekali saja dalam benak Anda, maka sejatinya Anda telah satu langkah menjadi ilmuwan, filosof, Anda telah melewati satu fase menjadi pewaris Nabi, menjadi kekasih Tuhan. Lalu pertanyaan susulan yang juga menusuk adalah, mengapa langkah pertama sekaligus menjadi langkah terakhir? Apakah kesulitan dalam memahami bacaan adalah sebab utamanya?
Mula-mula kita harus tahu bahwa setiap buku yang kita pelajari, tak peduli itu bacaan tentang Tuhan, agama, Kitab Suci, filsafat, sains, fisika, biologi, psikologi, sosiologi, sejarah, musik, energi, sentuh dan bunyi, sastra, lukisan semuanya memiliki “kode unik” dan “aturan main” sendiri. Contoh saat Anda mempelajari ilmu Kimia, dari dulu hingga kiamat kurang dua menit, mau tidak mau Anda harus pahami istilah-istilah teknis seperti: unsur dan senyawa, tabel periodic berupa Fe, Zn, NaCl, dari atom 1 (hydrogen) hingga 118 (ununoktium), juga sebelumnya radionuklida sintesis atau unsur yang berada di alam baik yang telah diproduksi di laboratorium maupun yang belum disintesa. Atau ketika Anda mempelajari ilmu nahwu (gramatikal bahasa Arab) suka tidak suka Anda harus pahami istilah yang dia gunakan seperti lafadz, wadlo’, murokab, mufid, fi’il-fa’il, mubtada’-khobar, dll.
Nah, dalam alur komunikasi dan informasi, pengkodean atau penyandian 14
adalah proses konversi informasi dari suatu sumber (objek) menjadi data, yang selanjutnya dikirim-pancarkan ke penerima informasi. Pendekatan “encoding” ini juga berlaku bagi segala disiplin ilmu, dan tugas kita adalah untuk menemukan kode tersebut. Oleh karenanya, buatlah peta pikiran (mind map) tentang buku yang sedang anda pelajari, dan dengan sendirinya Anda akan menemukan modalitas logis dari cara Anda itu, maka Anda telah melakukan “decoding” atau pengawakodean. Proses “decoding” ini kadang disebut juga penafsiran kode, yakni fase dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Semakin tepat penafsiran peneriman terhadap pesan yang dimaksud oleh pengirim pesan, maka semakin efektif komunikasi yang terjadi. Lalu, pengetahuan mendapati bentuknya, Demikianlah cara sederhana memahami “teks” apapun di sekeliling kita, di luar dan di dalam diri kita. Tahap akhir adalah, mengkode atau menyandi ulang (recoding) setiap petualangan intelektual Anda dengan buku dan semesta. Sebab, setiap orang berbeda cara dalam mengidentifikasi dan memahami disiplin ilmu.
Setelah Anda mencari, menemukan, meretas, dan menyandi ulang buku-buku yang Anda baca, kini Anda telah menemukan “warna kedelapan” dari pelangi. Artinya, Anda telah membentuk pola Anda sendiri dalam mengetahui dan mengalami pengetahuan. Selanjutnya, begitu perubahan (membaca, cara, dan membiasakannya) sudah Anda mulai, tampaknya perubahan itu akan mengurus dirinya sendiri, perubahan itu akan menemukan kemajuannya sendiri. Benar, inilah efek bola salju (snow ball), efek dadu, efek domino dan apapun istilahnya. Anda hanya perlu memutuskan untuk mulai membaca semaksimal mungkin, berusaha memahami sebanyak mungkin, mengalaminya sesering mungkin. Inilah yang disebut dengan “mere exsposure effect” yang mengandung arti bahwa semakin sering Anda berhubungan dengan sesuatu, makin suka Anda kepadanya. Dalam pepatah Jawa dikenal dengan istilah: tresna jalaran saka kulina. Bagaimana pernyataan ini bisa diuji kebenarannya?
Berikut sebuah kisah menarik. Untuk merayakan seabad Revolusi Perancis, dibangunlah sebuah menara pencakar langit oleh seorang insinyur bernama Gustave Eiffel. Tadinya menara telanjang setinggi 324 meter di tepi sungai Saine itu mau dibangun di Barcelona, tetapi otoritas kota malah menertawakan dan menolaknya karena master plannya terlihat aneh dan mahal. Begitu pembangunan selesai pada 31 Maret 1889, bahkan warga Paris pun menolaknya dengan berbagai kritik dan demonstrasi besar-besaran. Menurut mereka struktur besi berbobot 7.300 ton itu tak lebih dari karya setengah jadi yang justru menodai keindahan kota yang telah terjaga sekian abad lamanya. Akan tetapi, seiring roda waktu terus berputar, pendapat publik berubah sedikit demi sedikit dari benci menuju biasa-biasa saja, dari acuh tak acuh lalu menerima, kemudian mencintai dan bahkan memuja seperti sekarang ini. Kini lebih dari 250 juta manusia telah mengunjunginya, berfoto dan bahkan menikahi secara legal dengan sang Menara, Eiffel telah menjadi ikon global Prancis dan Eropa, ia adalah monumen dari keajaiban dunia. Memang, prinsip mere exsposure effect manjamin bahwa upaya perubahan yang tadinya ditolak sama sekali (bahkan oleh dirinya sendiri), perlahan tapi pasti akan disuka-cintai setelah terbiasa dengannya.
Hmm, sepertinya Anda sudah mempercayainya dan meyakini tulisan ini. Jika tulisan ini berhasil mengubah pola pikir (mindset) Anda, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengajak satu dua orang terdekat Anda, tiga empat sahabat Anda, kemudian dari setiap mereka mengajak satu dua orang terdekatnya dan tiga empat sahabatnya dan begitu seterusnya, maka sekali lagi efek bola salju benar-benar akan mengubah budaya bahkan perdaban Anda menjadi peradaban yang cinta pengetahuan. Selamat mencoba!
Oleh: Hamba Allah
Nah, mula-mula pertanyaan paling fundamental yang seharusnya muncul dibenak kita adalah, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat masyarakat kita menjadi sedemikian malas dan enggan untuk membaca bahkan membuka buku? Mengapa buku dan literatur ilmiah lainnya belum menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia? Nun di seberang sana, terdapat segelintir manusia yang tak bosan-bosan melayari samudera ilmu, menyelami tetes demi tetes, keringat demi keringat dan air matanya demi bisa belajar, menulis dan membaca, terseok-seok bahkan berdarah-darah untuk bisa memperoleh pengetahuan yang belum penting saat ini, sembari menitipkan harapan pada rekah bunga bahwa kelak negerinya akan membutuhkan pengetahuan itu.
Tetapi, mari abaikan itu sejenak. Ada sebilah tanya yang tanpa kita sadari menghunus bahkan menghujam sampai ke jantung kesadaran: Adakah di antara kita yang tak menghasrati ilmu dan mendambakan pengetahuan? Jika pertanyaan itu pernah terlintas bahkan sekali saja dalam benak Anda, maka sejatinya Anda telah satu langkah menjadi ilmuwan, filosof, Anda telah melewati satu fase menjadi pewaris Nabi, menjadi kekasih Tuhan. Lalu pertanyaan susulan yang juga menusuk adalah, mengapa langkah pertama sekaligus menjadi langkah terakhir? Apakah kesulitan dalam memahami bacaan adalah sebab utamanya?
Mula-mula kita harus tahu bahwa setiap buku yang kita pelajari, tak peduli itu bacaan tentang Tuhan, agama, Kitab Suci, filsafat, sains, fisika, biologi, psikologi, sosiologi, sejarah, musik, energi, sentuh dan bunyi, sastra, lukisan semuanya memiliki “kode unik” dan “aturan main” sendiri. Contoh saat Anda mempelajari ilmu Kimia, dari dulu hingga kiamat kurang dua menit, mau tidak mau Anda harus pahami istilah-istilah teknis seperti: unsur dan senyawa, tabel periodic berupa Fe, Zn, NaCl, dari atom 1 (hydrogen) hingga 118 (ununoktium), juga sebelumnya radionuklida sintesis atau unsur yang berada di alam baik yang telah diproduksi di laboratorium maupun yang belum disintesa. Atau ketika Anda mempelajari ilmu nahwu (gramatikal bahasa Arab) suka tidak suka Anda harus pahami istilah yang dia gunakan seperti lafadz, wadlo’, murokab, mufid, fi’il-fa’il, mubtada’-khobar, dll.
Nah, dalam alur komunikasi dan informasi, pengkodean atau penyandian 14
adalah proses konversi informasi dari suatu sumber (objek) menjadi data, yang selanjutnya dikirim-pancarkan ke penerima informasi. Pendekatan “encoding” ini juga berlaku bagi segala disiplin ilmu, dan tugas kita adalah untuk menemukan kode tersebut. Oleh karenanya, buatlah peta pikiran (mind map) tentang buku yang sedang anda pelajari, dan dengan sendirinya Anda akan menemukan modalitas logis dari cara Anda itu, maka Anda telah melakukan “decoding” atau pengawakodean. Proses “decoding” ini kadang disebut juga penafsiran kode, yakni fase dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Semakin tepat penafsiran peneriman terhadap pesan yang dimaksud oleh pengirim pesan, maka semakin efektif komunikasi yang terjadi. Lalu, pengetahuan mendapati bentuknya, Demikianlah cara sederhana memahami “teks” apapun di sekeliling kita, di luar dan di dalam diri kita. Tahap akhir adalah, mengkode atau menyandi ulang (recoding) setiap petualangan intelektual Anda dengan buku dan semesta. Sebab, setiap orang berbeda cara dalam mengidentifikasi dan memahami disiplin ilmu.
Setelah Anda mencari, menemukan, meretas, dan menyandi ulang buku-buku yang Anda baca, kini Anda telah menemukan “warna kedelapan” dari pelangi. Artinya, Anda telah membentuk pola Anda sendiri dalam mengetahui dan mengalami pengetahuan. Selanjutnya, begitu perubahan (membaca, cara, dan membiasakannya) sudah Anda mulai, tampaknya perubahan itu akan mengurus dirinya sendiri, perubahan itu akan menemukan kemajuannya sendiri. Benar, inilah efek bola salju (snow ball), efek dadu, efek domino dan apapun istilahnya. Anda hanya perlu memutuskan untuk mulai membaca semaksimal mungkin, berusaha memahami sebanyak mungkin, mengalaminya sesering mungkin. Inilah yang disebut dengan “mere exsposure effect” yang mengandung arti bahwa semakin sering Anda berhubungan dengan sesuatu, makin suka Anda kepadanya. Dalam pepatah Jawa dikenal dengan istilah: tresna jalaran saka kulina. Bagaimana pernyataan ini bisa diuji kebenarannya?
Berikut sebuah kisah menarik. Untuk merayakan seabad Revolusi Perancis, dibangunlah sebuah menara pencakar langit oleh seorang insinyur bernama Gustave Eiffel. Tadinya menara telanjang setinggi 324 meter di tepi sungai Saine itu mau dibangun di Barcelona, tetapi otoritas kota malah menertawakan dan menolaknya karena master plannya terlihat aneh dan mahal. Begitu pembangunan selesai pada 31 Maret 1889, bahkan warga Paris pun menolaknya dengan berbagai kritik dan demonstrasi besar-besaran. Menurut mereka struktur besi berbobot 7.300 ton itu tak lebih dari karya setengah jadi yang justru menodai keindahan kota yang telah terjaga sekian abad lamanya. Akan tetapi, seiring roda waktu terus berputar, pendapat publik berubah sedikit demi sedikit dari benci menuju biasa-biasa saja, dari acuh tak acuh lalu menerima, kemudian mencintai dan bahkan memuja seperti sekarang ini. Kini lebih dari 250 juta manusia telah mengunjunginya, berfoto dan bahkan menikahi secara legal dengan sang Menara, Eiffel telah menjadi ikon global Prancis dan Eropa, ia adalah monumen dari keajaiban dunia. Memang, prinsip mere exsposure effect manjamin bahwa upaya perubahan yang tadinya ditolak sama sekali (bahkan oleh dirinya sendiri), perlahan tapi pasti akan disuka-cintai setelah terbiasa dengannya.
Hmm, sepertinya Anda sudah mempercayainya dan meyakini tulisan ini. Jika tulisan ini berhasil mengubah pola pikir (mindset) Anda, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengajak satu dua orang terdekat Anda, tiga empat sahabat Anda, kemudian dari setiap mereka mengajak satu dua orang terdekatnya dan tiga empat sahabatnya dan begitu seterusnya, maka sekali lagi efek bola salju benar-benar akan mengubah budaya bahkan perdaban Anda menjadi peradaban yang cinta pengetahuan. Selamat mencoba!
Oleh: Hamba Allah

0 Response to "Kapan Indonesiaku Maju"
Post a Comment