-->

Kolaborasi al Ahya Minal Iman dan Qoul Pepatah




Tentunya kita masih ingat masa-masa ketika duduk dibangku SD, ketika pelajaran matematika tiba, kita selalu sembunyi agar tidak disuruh maju mengerjakan tugas dipapan tulis. Ketika ditanya “kenapa kamu bersembunyi?”
Dengan sigap kita menjawab, “Saya malu pak, nanti kalau salah diejek sama teman-teman?”
Ketika memasuki masa remaja kita melakukan hal yang salah, orang tua kita akan berkata, “ bikin malu keluarga saja”
Saat memasuki usia dewasa, kita duduk dibangku kuliah dan berhadapan dengan dosen yang sangat cerdas. Dia tahu jika kita tidak mengerti rumus-rumus abstrak yang ia tulis dipapan tulis. Kita terdiam, membisu, dan malu jika ketahuan teman kalau kita bodoh, saat dosen bertanya, “Siapa yang belum mengerti?”
Ketika sudah benar-benar dewasa, kita akan datang ke tempat-tempat seminar. Ketika seorang pembicara bertanya, “Bapak, ibu, silahkan jika ada yang ingin dipertanyakan” kita terdiam dan malu. Dalam hati kita akan berkata, “Masak lulusan S1 bertanya seperti anak SMA”
Seperti itulah tingkah kita selama ini, kita selalu malu untuk bertanya sehingga hasil yang kita capai tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Karena malu juga, seorang mahasiswa gagal mendapatkan nilai A. Karenanya, jika anda tidak ingin mengalami kegagalan proses “Buanglah jauh-jauh rasa malu, karena itu akan menghambat keberhasilanmu!”
Sering kali kita mendengar orang saleh berkata “Malu, sebagian dari iman” kalau kita sempurnakan maknanya adalah, keimaman seseorang tidak akan sempurna jika ia tidak mempunyai rasa malu. Sekarang, kita berhak memilih. Apakah kita ingin menjadi orang berhasil dalam karier menjadi orang yang berkeimanan utuh? Gampang. Jika ingin sukses dalam berkarier, buanglah rasa malu didalam diri kita! Jika ingi menjadi orang beriman, pupuk dan hidupkan rasa malu dalam diri kita!

Pemikiran orang yang hidup di era modern ini telah terkontaminasi oleh hawa nafsu dan hedonisme. Oleh karena itu kita sering kali mencampakan ajaran-ajaran normatif. Di era yang serba instan ini, materi menjadi tolak ukur yang paling dominan. Hidup kita sering dinilai dari jenis kendaraan apa yang kita miliki, kemegahan  rumah yang kita huni, label pakaian yang kita kenakan hingga dipandang berdasarkan gelar yang menempel pada nama kita. Jika mempunyai jabatan yang tinggi, kita akan dihormati. Namun jika tidak, kita akan ditinggalkan. 

Dengan melihat pola pandang yang semacam itu tentunya kita akan berfikir bahwa keberhasilan tidak akan terwujud jika kita malu.

BACA  JUGA!!!

Kita kemudian beranggapan mengapa harus melakukan ini dan itu, melabrak sana sini, menyikut kanan niri , mengambil, meraut bahkan merenggut milik orang lain supaya dalam sekejap mendapatkan segala-galanya. Tidak, jangan sekali-kali berpikir demikian !
Sering kali kita melanggar ungkapan pepatah ”Malu bertanya sesat dijalan”. Namun disisi lain ada yang mengatakan “ Buanglah rasa malu karena dapat menghambat keberhasilanmu”. Jika memang demikian yang paling benar, kita harus membuang rasa malu. Malu seperti apa yang pantas kita buang? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu berpikir sejenak. Benarkah orang yang malu bertanya akan sesat dijalan? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Jika mempunyai GPS maka kita tidak perlu bertanya untuk mencapai ketempat tujuan. Jadi, membuang rasa malu adalah memantaskan diri kita agar tidak salah jalan.
 
Bisa dikatakan orang beriman akan menggunakan rasa malu untuk mewujudkan impiannya. Dengan adanya pertimbangan tersebut, orang yang memiliki rasa malu akan sadar bahwa bertanya merupakan tugas yang tidak boleh ditinggalkan ketika ia tidak tahu tentang suatu hal. Seorang yang beriman akan malu jika ia telah belajar banyak hal tapi hidupnya stagnan. Dapat dikatakan, orang yang mempunyai rasa malu akan selalu bertanggung jawab dengan segala hal yang ia miliki. Ia akan bersaha  mengembangkan bakat yang dimilikinya dan menjadi orang  yang luar biasa.
Seorang atasan yang beriman akan malu jika semua permasalahan dtimpahkan kepada anak buahnya. Apa fungsi atasan jika demikian? Seorang anak buah yang beriman akan malu jika keberadaannya sama sekali tidak menyebabkan segala sesuatunya lebih mudah bagi sang atasan. Apa gunanya seorang bawahan kalau demikian? Seorang kolega yang beriman, akan malu jika keberadannya sama sekali tidak membuat teamnya merasa terbantu. Dan seorang pegawai, malu jika semua tugas-tugasnya terbengkalai. Seorang karyawan, malu jika kedatanganya menuju kantor selalu terlambat, dan biasa pulang cepat-cepat. Dan orang yang beriman, malu jika menyia-nyiakan kesempatan untuk dipromosikan sehingga dia akan berusaha sekuat tenaga, agar memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari teman-temanya yang lain. Agar nanti jika ada lowongan jabatan yang lebih tinggi tidak ragu memilihnya untuk dipromosikan. Sebab, rasa malu adalah sebagian dari iman.
Kita bisa menjadi orang beriman yang sukses bukan? tentu saja bisa. Dengan konsep malu adalah Iman, kita benar-benar akan meraih kesuksesan dalam hidup dan mati. Kita dibimbing untuk menjadi pribadi pribadi yang unggul dan bisa diandalkan, layak diberi tanggung jawab patut untuk menjadi panutan, dan pantas dijadikan tempat dimana orang lain mendapat pencerahan. Setelah mati kita akan diingat karena telah meninggalkan jejak-jejak keterpujian.

BACA  JUGA!!! 




0 Response to " Kolaborasi al Ahya Minal Iman dan Qoul Pepatah"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel