Man Jadda Wajada (Sepenggal Mantra Sakti pemikat Kesuksesan)
Monday, 31 October 2016
Add Comment
“Man
Jadda Wajada” merupakan sebuah ungkapan pribahasa
yang tak asing lagi jika ada orang menyebutnya, apalagi dikalangan para santri.
Kata ini juga bisa di katakan sebagai “Sepenggal Mantra Sakti Pemikat
Kesuksesan”, yang memiliki makna yang kuat dan mampu memberikan semangat dalam
kehidupan seseorang.
Kita percaya sekaligus setuju, bahwa
tidak ada orang yang sukses di bidangnya, kecuali “bersungguh-sungguh”. Kata
tersebut menjadi salah satu amunisi dalam menghadapi realita dan permasalahan
yang menghampiri. Benih Man Jadda Wajada, cocok ditanam pada lingkungan manapun
dan dalam kondisi apapun. Tak pandang bulu, entah pelajar, santri, guru, atau
siapapun itu, yang menanamnya dan istiqomah menjalaninya, maka pintu kesuksesan
dan keberhasilan akan terbuka lebar baginya. Karena keberadaanya “Sholih
Likulli Zaman wa Makan”, maka ketetapannya
mengisyaratkan kepada manusia
bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak
berusaha merubahnya sendiri, sebagaimana tertuliskan dalam kitab suci Al-Qur’an
Al-Karim, “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum, sehingga
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar Rad: 11).
Percaya atau tidak, setiap manusia
yang lahir dimuka bumi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bintang,
menjadi pemenang dan mencetak prestasi yang luar biasa dalam kehidupannya.
Namun tak semuanya memiliki mental yang cukup kuat untuk menggunakan kesempatan
itu, sehingga hanya sedikit yang mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita menjadi
kenyataan.
Ingin
Sukses? Niat Dulu Dong...
Dalam Islam permasalan niat atau ‘Azm
telah banyak disinggung bahkan dijelaskan secara eksplisit. Motivasi (niat)
menjadi faktor yang akan menentukan apa yang akan dan ingin kita raih. Coba
kita perhatikan sabda Rasulullah berikut ini,
“setiap
amal perbuatan itu tergantung pada niatya, dan sesungguhnya setiap orang akan
dibalas sesuai dengan kadar niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah
dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan baragsiapa yang
yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena wanita
yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya
tersebut.” (HR. Bukhori Muslim).
Jadi, segala sesuatu tergerak dari
niat. Dengan kuatnya niat akan menggerakan pikiran dan tindakan ke arah tujuan
yang kita inginkan. Niat adalah sesuatu yang sangat dalam bersemayam di dalam
hati. Niat bukan sekedar tujuan, tapi niat adalah penghulunya tujuan. Karena
niat itu dalam dan tersembunyi maka gantungkan niat anda hanya kepada yang maha
tersembunyi (Al-Bathin)
Ingin
Sukses? Ya Butuh Aksilah...
Mimpi hanya akan menjadi angan-angan
jika kita tidak pernah berusaha bagaimana meraihnya. Aksi merupakan hak paten
yang mengikat terwujud atau tidaknya sebuah mimpi. Coba kita tanyakan pada diri
kita, ketika kita mempunyai impian untuk menjadi orang sukses, apa yang yang
sudah dan akan anda lakukan?
Contoh sederhananya, suatu ketika Joko
sedang sibuk melemparkan kerang-kerang ke dasar laut. Kemudia, salah seorang
temannya heran menyaksikan sikap Joko tersebut, lalu bertanya, “kawan, apa yang
ada dalam benakmu? Bukankah akan sia-sia engkau melemparkan kerang itu, karena
ombaknya akan membawanya kembali ke pesisir pantai?” sambil terus melemparkan
kerang ke lautan, ia pun menjawab, “betul sekali apa yang kau ucapkan kawan,
tapi setidaknya aku telah berusaha memberi kesempatan pada kerang-kerang
tersebut untuk hidup di habitatnya.”
Aku
Minder Karena Aku Gak Pinter?
Dalih semacam ini kerap kali terdengar
sebagai salah satu alasan seseorang untuk melangkah maju. Orang merasa minder
karena merasa dirinya tidak pintar, tidak jenius seperti orang lain. Inilah
penyabab lahirnya manusia kurang PD, sehingga hal tersebut menjadi bumerang
pada diri dan mimpinya.
Ketahuilah, bahwa citra diri yang
positif terhadap diri kita akan melahirkan apresiasi yang positif dari
orang-orang yang ada dilingkungan kita begitu pula sebaliknya. Kalau dipikir
lebih jauh lagi, sebenarnya bukan seberapa banyak intelegensi yang dimiliki.
Yang terpenting adalah, seberapa sering kita menggunakan kemampuan otak kita
untuk melakukan sesuatu.
Ketika kita tidak percaya akan
kemampuan diri kita sendiri, maka hal yang akan didapat adalah ketidakpercayaan
dari orang-orang sekitarnya. Kepercayaan dapat dilihat dari cara kita berjalan,
berkata dan bertindak. Jelaslah, dengan percaya pada kemampuan diri sendiri,
maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.
Seringkali orang juga mengaitkan
kesuksesan dengan tahta dan jabatan serta menjadikannya sebagai salah satu
ukuran kesuksesan. Bukan kesuksesan yang sebenarnya terletak pada keberhasilan
kita menikmati apa yang kita raih. Logika sederhananya begini, “orang yang
berhasil meraih impiannya menjadi doktor, maka ia dikatakan sukses. Akan tetapi
doktor yang tidak dapat menikmati peran dan fungsinya sebagai doktor, maka ia
adalah doktor yang yang gagal.”
Epilog
Pada dasarnya, setiap orang mempunyai
kesempatan untuk sukses. Namun, masing-masing mempunyai jalan berbeda. Karena
itu, tugas kita adalah mencari jalan sukses untuk kita sendiri. Kesabaran,
kerja keras dan doa akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang
kita hadapi. Rintangan dan hambatan tidak boleh membuat kita berhenti. Siapa
tau, dua tiga langkah kedepan adalah pintu gerbang menuju masa yang lebih
gemilang.
Ingatlah selalu, pintu-pintu
keberhasilan bukan hanya satu pintu. Kalau satu pintu tertutup putus asa
bukanlah solusinya. Karena disisi lain masih ada pintu yang perlu kita coba.
Dengan semangat Man Jadda Wajada, yakinlah pada diri kita, siapa yang serius ia
akan memasuki pintu kesuksesan itu.

0 Response to "Man Jadda Wajada (Sepenggal Mantra Sakti pemikat Kesuksesan)"
Post a Comment