-->

Man Jadda Wajada (Sepenggal Mantra Sakti pemikat Kesuksesan)





“Man Jadda Wajada” merupakan sebuah ungkapan pribahasa yang tak asing lagi jika ada orang menyebutnya, apalagi dikalangan para santri. Kata ini juga bisa di katakan sebagai “Sepenggal Mantra Sakti Pemikat Kesuksesan”, yang memiliki makna yang kuat dan mampu memberikan semangat dalam kehidupan seseorang.
          Kita percaya sekaligus setuju, bahwa tidak ada orang yang sukses di bidangnya, kecuali “bersungguh-sungguh”. Kata tersebut menjadi salah satu amunisi dalam menghadapi realita dan permasalahan yang menghampiri. Benih Man Jadda Wajada, cocok ditanam pada lingkungan manapun dan dalam kondisi apapun. Tak pandang bulu, entah pelajar, santri, guru, atau siapapun itu, yang menanamnya dan istiqomah menjalaninya, maka pintu kesuksesan dan keberhasilan akan terbuka lebar baginya. Karena keberadaanya “Sholih Likulli Zaman wa Makan”, maka ketetapannya  mengisyaratkan kepada  manusia bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri, sebagaimana tertuliskan dalam kitab suci Al-Qur’an Al-Karim, “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar Rad: 11).
          Percaya atau tidak, setiap manusia yang lahir dimuka bumi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bintang, menjadi pemenang dan mencetak prestasi yang luar biasa dalam kehidupannya. Namun tak semuanya memiliki mental yang cukup kuat untuk menggunakan kesempatan itu, sehingga hanya sedikit yang mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita menjadi kenyataan.

Ingin Sukses? Niat Dulu Dong...

          Dalam Islam permasalan niat atau ‘Azm telah banyak disinggung bahkan dijelaskan secara eksplisit. Motivasi (niat) menjadi faktor yang akan menentukan apa yang akan dan ingin kita raih. Coba kita perhatikan sabda Rasulullah berikut ini,
“setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas sesuai dengan kadar niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya. Dan baragsiapa yang yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut.” (HR. Bukhori Muslim).

          Jadi, segala sesuatu tergerak dari niat. Dengan kuatnya niat akan menggerakan pikiran dan tindakan ke arah tujuan yang kita inginkan. Niat adalah sesuatu yang sangat dalam bersemayam di dalam hati. Niat bukan sekedar tujuan, tapi niat adalah penghulunya tujuan. Karena niat itu dalam dan tersembunyi maka gantungkan niat anda hanya kepada yang maha tersembunyi (Al-Bathin)


Ingin Sukses? Ya Butuh Aksilah...

          Mimpi hanya akan menjadi angan-angan jika kita tidak pernah berusaha bagaimana meraihnya. Aksi merupakan hak paten yang mengikat terwujud atau tidaknya sebuah mimpi. Coba kita tanyakan pada diri kita, ketika kita mempunyai impian untuk menjadi orang sukses, apa yang yang sudah dan akan anda lakukan?
          Contoh sederhananya, suatu ketika Joko sedang sibuk melemparkan kerang-kerang ke dasar laut. Kemudia, salah seorang temannya heran menyaksikan sikap Joko tersebut, lalu bertanya, “kawan, apa yang ada dalam benakmu? Bukankah akan sia-sia engkau melemparkan kerang itu, karena ombaknya akan membawanya kembali ke pesisir pantai?” sambil terus melemparkan kerang ke lautan, ia pun menjawab, “betul sekali apa yang kau ucapkan kawan, tapi setidaknya aku telah berusaha memberi kesempatan pada kerang-kerang tersebut untuk hidup di habitatnya.”


Aku Minder Karena Aku Gak Pinter?

          Dalih semacam ini kerap kali terdengar sebagai salah satu alasan seseorang untuk melangkah maju. Orang merasa minder karena merasa dirinya tidak pintar, tidak jenius seperti orang lain. Inilah penyabab lahirnya manusia kurang PD, sehingga hal tersebut menjadi bumerang pada diri dan mimpinya.
          Ketahuilah, bahwa citra diri yang positif terhadap diri kita akan melahirkan apresiasi yang positif dari orang-orang yang ada dilingkungan kita begitu pula sebaliknya. Kalau dipikir lebih jauh lagi, sebenarnya bukan seberapa banyak intelegensi yang dimiliki. Yang terpenting adalah, seberapa sering kita menggunakan kemampuan otak kita untuk melakukan sesuatu.
          Ketika kita tidak percaya akan kemampuan diri kita sendiri, maka hal yang akan didapat adalah ketidakpercayaan dari orang-orang sekitarnya. Kepercayaan dapat dilihat dari cara kita berjalan, berkata dan bertindak. Jelaslah, dengan percaya pada kemampuan diri sendiri, maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.
          Seringkali orang juga mengaitkan kesuksesan dengan tahta dan jabatan serta menjadikannya sebagai salah satu ukuran kesuksesan. Bukan kesuksesan yang sebenarnya terletak pada keberhasilan kita menikmati apa yang kita raih. Logika sederhananya begini, “orang yang berhasil meraih impiannya menjadi doktor, maka ia dikatakan sukses. Akan tetapi doktor yang tidak dapat menikmati peran dan fungsinya sebagai doktor, maka ia adalah doktor yang yang gagal.”

Epilog

          Pada dasarnya, setiap orang mempunyai kesempatan untuk sukses. Namun, masing-masing mempunyai jalan berbeda. Karena itu, tugas kita adalah mencari jalan sukses untuk kita sendiri. Kesabaran, kerja keras dan doa akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Rintangan dan hambatan tidak boleh membuat kita berhenti. Siapa tau, dua tiga langkah kedepan adalah pintu gerbang menuju masa yang lebih gemilang.
          Ingatlah selalu, pintu-pintu keberhasilan bukan hanya satu pintu. Kalau satu pintu tertutup putus asa bukanlah solusinya. Karena disisi lain masih ada pintu yang perlu kita coba. Dengan semangat Man Jadda Wajada, yakinlah pada diri kita, siapa yang serius ia akan memasuki pintu kesuksesan itu.


0 Response to "Man Jadda Wajada (Sepenggal Mantra Sakti pemikat Kesuksesan)"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel