-->

Menyoroti Perbedaan Hati, Ruh, Nafsu dan Akal


Hati (Al-Qalb)

Kata al-qolbu atau hati bisa di tetapkan dengan dua arti, pertama, daging yang terdapat didalam dada sebelah kiri dan didalam rongganya berisi darah hitam. Ia merupakan sumber Ruh dan tempat tinggalnya. Daging dalam bentuk ini juga terdapat pada hewan dan orang mati.
          Kedua, kata Al-Qalb bisa juga diartikan dengan Lathifah Rabbaniyah Ruhaniyah, yang mempunyai hubungan dengan artian hati yang pertama. Lathifah (bisikan) inilah yang mengenal Allah Ta’ala dan memahami apa yang tidak dapat dijangkau oleh khayalan dan angan-angan, dan itulah hakikat manusia. Makna yang kedua ini mempunyai keselarasan dengan firman Allah dalam surah Al-Qaaf ayat 37, yang artinya sebagai berikut. “sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati”. Andaikata yang dimaksud dengan Al-Qalbu di sini adalah jantung, tentulah ia terdapat pada setiap orang.
Manakal seorang insan mampu mendeteksi ini, maka ketahuilah bahwa kaitan bisikan ini adalah kaitan yang tersamar,tidak dapat terjangkau dengan pejelasan, tetapi tergantung pada penyaksian. Hanya bisa dikatakan bahwa bisikan (hati) itu seperti raja dan daging ini seperti gedung dan kerajaan.

Ruh (Ar-Ruuh)

          Ruh memiliki dua arti sebagimana hati: pertama, Ruh alami (nyawa), yaitu asap yang sumbernya adalah darah hitam di rongga jantung, yaitu daging sanubari yang tersebar melalui urat-urat ke seluruh tubuh. Perumpamaannya sepertilampu yang ada disebuah rumah, karena ia bisa menerangi seluruh sudut rumah. Itulah yang dimaksud oleh para dokter dengan nyawa.
          Kedua,Lathifah Rabbani yang merupakan makna hakikat hati. Ruh (nyawa) da jantung (hati) mempunyai persamaan dangan arti bisikan itu. Sebagaimana yang telah difimankan Allah, yang artinya, “dan mereka bertanya tentang ruh, katakanlah (muhammad) : Ruh itu termasuk urusan tuhanKu ” (QS. Al-Isra’ : 85)

Nafsu (An-Nafs)

          Nafsu jaga sama seperti dua penjelasan di atas, sama-sama mempunyai dua arti. Pertama, arti yang mencakup kekuatan amarah dan syahwat serta sifat-sifat tercela lainnya. Itulah yang dimaksud dengan sabda nabi SAW, yang artinya, “musuhmu yang paling jahat adalah nafsumu yang berada dalam rongga tubuhmu.” Nafsu inilah yang setiap manusia diperintahkan untuk senantiasa memerangi dan mematahkannya.
          Kedua, Lathifah Rabbani yang merupakan salah satu makna dari hati, ruh dan juga jiwa. Ia adalah hakikat manusia yang membedakannya dari hewan-hewab lainnya. Apabila menjadi jernih dan terang dengan menyebut nama Allah Ta’ala, terhapuslah dari padanya pengaruh-pengaruh syahwat dan sifat-sifat tercela dan dinamakan dengan jiwa yang tenang.itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “wahai jiwa yang tenang.” (QS. Al-Fajr: 27).
          Sebelum mencapai derajat ini, nafsu mempunya dua derajat yang menurut sifat-sifatnya. Yang satu dinamakan dengan An-nafsul Lawwaamah. Inilah yang digunakan Allah untuk bersumpah dalam firman-Nya. “dan aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah : 2)
          Yaitu nafsu mencela kemaksiatan, tidak dapat dipercay dan ridha. Sebelum mencapai derajat ini, nafsu lawwamah juga mempunyai derajat yang selalu menyuruh pada kejahatann sebagaimana firman Allah. “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan” (QS. Yusuf: 53).
          Suatu ketika tidak menyuruh pada perbuatan baik dan tidak pula menyalahkan perbuatan tidak baik. Ia (Nafsu Amarah) adalah nafsu yang paling rendah, nafsul muthmainnah adalah nafsu yang paling tinggi, sedangkan Nafsul Lawwamah adalah diantara keduannya; tidak rela dengan kejahatan sehingga menerima dan tidak dapat tenang dengan kebaikan sehingga tenang dengan kebaikan, yaitu mengingat Allah Ta’ala.

Akal (Al-Aql)
         
          Telah disebutkan baginnya sejumlah makna. Pertama, mengetahui hakikat segala sesuatu. Kedua, orang Alim yang ilmunya seperti sifat dan makna inilah yang dimaksud dengan Lathifah Rabbaniyah (bisikan rabbani), karena akal tidak bisa dimaksudkan dengan makna yang pertama.
          Nabi SAW. Baersabda, “yang pertama yang diciptakan Allah Ta’ala adalah Akal.” Kemudian Allah berkata kepada akal, “datanglah, maka akalpun datang.” Kemudian Allah berkata “pergilah” maka ia pergi.
          Apanila telah jelas bagi kita, bahwa yang dimaksud dengan hati, ruh, jiwa, dan akal dalam khabar-khabar dab ayat-ayat adalah bisikan Rabbani dan apabila kita sebutkan secara muthlak,  maka yang kita maksdkan adalah makna-makna tersebut.
          Sebagai penutup, Sahl At-Tastari berkata: “hati itu bagaikan Arsy dan dada sebagai Kursinya. Hal itu menunjukan pula bahwa yang dimaksud dengan hati adalah sesuatu yang ada dibalik sanubari itu”.

sumber: kitab Mukhtasho Ihya’ Ulumiddin

0 Response to "Menyoroti Perbedaan Hati, Ruh, Nafsu dan Akal"

Post a Comment

Iklan Bawah Artikel