Menyoroti Perbedaan Hati, Ruh, Nafsu dan Akal
Tuesday, 25 October 2016
Add Comment
Hati
(Al-Qalb)
Kata
al-qolbu atau hati bisa di tetapkan dengan dua arti, pertama, daging yang
terdapat didalam dada sebelah kiri dan didalam rongganya berisi darah hitam. Ia
merupakan sumber Ruh dan tempat tinggalnya. Daging dalam bentuk ini juga
terdapat pada hewan dan orang mati.
Kedua, kata Al-Qalb bisa juga
diartikan dengan Lathifah Rabbaniyah Ruhaniyah, yang mempunyai hubungan dengan
artian hati yang pertama. Lathifah (bisikan) inilah yang mengenal Allah Ta’ala
dan memahami apa yang tidak dapat dijangkau oleh khayalan dan angan-angan, dan
itulah hakikat manusia. Makna yang kedua ini mempunyai keselarasan dengan
firman Allah dalam surah Al-Qaaf ayat 37, yang artinya sebagai berikut. “sesungguhnya
yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang
mempunyai hati”. Andaikata yang dimaksud dengan Al-Qalbu di sini adalah
jantung, tentulah ia terdapat pada setiap orang.
Manakal
seorang insan mampu mendeteksi ini, maka ketahuilah bahwa kaitan bisikan ini
adalah kaitan yang tersamar,tidak dapat terjangkau dengan pejelasan, tetapi
tergantung pada penyaksian. Hanya bisa dikatakan bahwa bisikan (hati) itu
seperti raja dan daging ini seperti gedung dan kerajaan.
Ruh
(Ar-Ruuh)
Ruh memiliki dua arti sebagimana hati:
pertama, Ruh alami (nyawa), yaitu asap yang sumbernya adalah darah hitam di
rongga jantung, yaitu daging sanubari yang tersebar melalui urat-urat ke
seluruh tubuh. Perumpamaannya sepertilampu yang ada disebuah rumah, karena ia
bisa menerangi seluruh sudut rumah. Itulah yang dimaksud oleh para dokter
dengan nyawa.
Kedua,Lathifah Rabbani yang merupakan
makna hakikat hati. Ruh (nyawa) da jantung (hati) mempunyai persamaan dangan arti
bisikan itu. Sebagaimana yang telah difimankan Allah, yang artinya, “dan mereka
bertanya tentang ruh, katakanlah (muhammad) : Ruh itu termasuk urusan tuhanKu ”
(QS. Al-Isra’ : 85)
Nafsu
(An-Nafs)
Nafsu jaga sama seperti dua penjelasan
di atas, sama-sama mempunyai dua arti. Pertama, arti yang mencakup kekuatan
amarah dan syahwat serta sifat-sifat tercela lainnya. Itulah yang dimaksud
dengan sabda nabi SAW, yang artinya, “musuhmu yang paling jahat adalah nafsumu
yang berada dalam rongga tubuhmu.” Nafsu inilah yang setiap manusia
diperintahkan untuk senantiasa memerangi dan mematahkannya.
Kedua, Lathifah Rabbani yang merupakan
salah satu makna dari hati, ruh dan juga jiwa. Ia adalah hakikat manusia yang
membedakannya dari hewan-hewab lainnya. Apabila menjadi jernih dan terang
dengan menyebut nama Allah Ta’ala, terhapuslah dari padanya pengaruh-pengaruh
syahwat dan sifat-sifat tercela dan dinamakan dengan jiwa yang tenang.itulah
yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “wahai jiwa yang tenang.” (QS.
Al-Fajr: 27).
Sebelum mencapai derajat ini, nafsu
mempunya dua derajat yang menurut sifat-sifatnya. Yang satu dinamakan dengan
An-nafsul Lawwaamah. Inilah yang digunakan Allah untuk bersumpah dalam
firman-Nya. “dan aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya
sendiri.” (QS. Al-Qiyamah : 2)
Yaitu nafsu mencela kemaksiatan, tidak
dapat dipercay dan ridha. Sebelum mencapai derajat ini, nafsu lawwamah juga
mempunyai derajat yang selalu menyuruh pada kejahatann sebagaimana firman
Allah. “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan” (QS.
Yusuf: 53).
Suatu ketika tidak menyuruh pada
perbuatan baik dan tidak pula menyalahkan perbuatan tidak baik. Ia (Nafsu
Amarah) adalah nafsu yang paling rendah, nafsul muthmainnah adalah nafsu yang
paling tinggi, sedangkan Nafsul Lawwamah adalah diantara keduannya; tidak rela
dengan kejahatan sehingga menerima dan tidak dapat tenang dengan kebaikan
sehingga tenang dengan kebaikan, yaitu mengingat Allah Ta’ala.
Akal
(Al-Aql)
Telah disebutkan baginnya sejumlah makna.
Pertama, mengetahui hakikat segala sesuatu. Kedua, orang Alim yang ilmunya
seperti sifat dan makna inilah yang dimaksud dengan Lathifah Rabbaniyah
(bisikan rabbani), karena akal tidak bisa dimaksudkan dengan makna yang
pertama.
Nabi SAW. Baersabda, “yang pertama
yang diciptakan Allah Ta’ala adalah Akal.” Kemudian Allah berkata kepada
akal, “datanglah, maka akalpun datang.” Kemudian Allah berkata “pergilah”
maka ia pergi.
Apanila telah jelas bagi kita, bahwa
yang dimaksud dengan hati, ruh, jiwa, dan akal dalam khabar-khabar dab
ayat-ayat adalah bisikan Rabbani dan apabila kita sebutkan secara muthlak, maka yang kita maksdkan adalah makna-makna
tersebut.
Sebagai penutup, Sahl At-Tastari
berkata: “hati itu bagaikan Arsy dan dada sebagai Kursinya. Hal itu menunjukan
pula bahwa yang dimaksud dengan hati adalah sesuatu yang ada dibalik sanubari
itu”.
sumber: kitab Mukhtasho Ihya’
Ulumiddin

0 Response to "Menyoroti Perbedaan Hati, Ruh, Nafsu dan Akal"
Post a Comment